← BerandaMercusuar di Ujung SeruniSampul0%

Novel · Drama Pesisir

Mercusuar di Ujung Seruni

karya Lily

Mercusuar Pulau Seruni, yang menyala sejak 1911, akan dipadamkan dan digantikan sistem navigasi otomatis. Laras, penjaga terakhirnya, punya tujuh hari untuk mengucapkan selamat tinggal pada menara yang membesarkannya — sampai seorang teknisi muda datang membawa surat perintah pemadaman, dan badai terbesar dalam tiga puluh tahun datang membawa ujian terakhir bagi cahaya itu.

5 bab1.941 kata± 11 menit bacaGratis, tanpa akun
Gulir ke bawah
Perahu-perahu nelayan di pelabuhan.

Ilustrasi: gambar yang dibuat untuk Novel Lily

Bab Satu

Perahu Terakhir ke Seruni

345 kata

Perahu terakhir ke Pulau Seruni berangkat dari Pelabuhan Karangasem pukul setengah lima sore, ketika matahari sudah miring dan laut berubah warna menjadi tembaga. Di atas perahu kayu itu hanya ada dua penumpang: Laras, yang pulang setelah sebelas tahun, dan seorang laki-laki muda berjaket lapangan yang sejak tadi memeluk sebuah koper aluminium seperti memeluk bayi.

Laras mengenal pulau itu jauh sebelum pulau itu tampak. Ia mengenalnya dari bau garam yang menebal, dari burung camar yang tiba-tiba ramai, dan dari cara Pak Darman, juragan perahu, mematikan mesin lebih awal agar perahu meluncur sendiri menembus air yang tenang. “Mercusuarnya masih kau yang jaga, Nduk?” tanya Pak Darman tanpa menoleh.

“Masih, Pak. Sampai minggu depan.” Laras menjawab sambil memandangi menara putih-merah yang tumbuh dari ujung karang. Seratus dua belas anak tangga, satu lampu sebesar lemari, dan satu perintah dari kantor pusat di Jakarta: mercusuar Seruni dinonaktifkan. Digantikan satelit, sensor, dan hal-hal yang tidak pernah bisa diajak bicara.

Laki-laki muda itu akhirnya bersuara. “Permisi, Mbak penjaga mercusuar, ya? Saya Raka Pradana, teknisi dari Direktorat Navigasi. Saya yang akan memasang sistem otomatisnya.” Ia mengulurkan tangan dengan canggung karena perahu bergoyang. “Mulai Senin, menara ini tidak perlu dijaga manusia lagi.”

Laras menyambut tangannya sekilas. “Selamat datang di Seruni, Mas Raka. Semoga betah. Di sini sinyal hilang timbul, listrik dari genset, dan satu-satunya yang tidak pernah berubah cuma tangga menara itu.” Ia tersenyum, tetapi matanya kembali ke menara. Di dalam tasnya, terlipat rapi, ada amplop cokelat berisi surat pengajuan yang belum sempat ia kirim: permohonan agar Seruni dipertahankan sebagai mercusuar berpenghuni.

Pak Darman tertawa kecil dari buritan. “Dulu kakekmu, Nduk, pernah menolak dipensiunkan. Katanya, laut tidak bisa dijaga mesin. Laut harus dijaga orang yang berani tidak tidur.” Perahu menabrak pelan dermaga kayu, dan tali dilempar ke darat. Senja menutup pelabuhan seperti tirai yang diturunkan perlahan.

Malam itu, dari jendela rumah jaga, Laras memandangi menara yang gelap. Selama sebelas tahun ia menjaga cahaya itu dari jauh — lewat cerita, lewat rindu. Kini cahaya itu tinggal menunggu hari untuk padam, dan Laras berjanji pada dirinya sendiri: minggu terakhir ini tidak akan ia lewatkan begitu saja.

Penjaga mercusuar menaiki tangga spiral.

Ilustrasi: gambar yang dibuat untuk Novel Lily

Bab Dua

Seratus Dua Belas Anak Tangga

384 kata

Ada seratus dua belas anak tangga dari pintu menara ke ruang lampu, dan Laras menghitungnya setiap malam seperti orang menghitung tasbih. Anak tangga ketujuh berderit. Anak tangga keempat puluh baunya seperti minyak tanah dan besi tua. Anak tangga kesembilan puluh sembilan adalah tempat Ayah dulu berhenti, pura-pura kehabisan napas, padahal ia hanya ingin memandangi laut lebih lama.

Malam pertama, Raka ikut naik. Ia membawa senter, tablet, dan daftar periksa yang panjangnya seperti struk belanja. “Lensa Fresnel orde tiga,” katanya sambil mencatat. “Masih asli. Di Jakarta, alat seperti ini sudah masuk museum.” Laras menyalakan lampu sesuai tata cara lama: memutar katup, memeriksa sumbu cadangan, lalu menekan saklar yang usianya lebih tua dari mereka berdua.

Cahaya itu meledak keluar dengan suara dengung halus, lalu mulai berputar — satu sapuan panjang melintasi laut, jeda, lalu sapuan lagi. Dari ketinggian menara, sorotnya tampak seperti jari telunjuk raksasa yang menunjuk-nunjuk kegelapan, seolah berkata: di sini ada karang, hati-hati; di sini ada jalan pulang, jangan takut.

“Kenapa Mbak tidak mengajukan pindah ke mercusuar lain saja?” tanya Raka. “Masih ada dua belas menara berpenghuni di Indonesia timur.” Laras menggeleng. “Yang dua belas itu bukan rumah saya, Mas. Ayah saya lahir di rumah jaga bawah itu. Kakek saya meninggal di anak tangga ketujuh puluh. Menara ini bukan tempat kerja. Ini halaman rumah yang kebetulan tingginya tiga puluh meter.”

Di ruang lampu ada sebuah lemari besi, dan di dalamnya, di bawah buku catatan cuaca tahun 1987, Laras menemukan sesuatu yang tidak pernah ia ketahui: setumpuk surat Ayah yang tidak pernah terkirim. Semua dialamatkan kepada Ibu — yang pergi ke kota ketika Laras berumur enam tahun dan tidak pernah kembali. Surat terakhir bertanggal tiga hari sebelum Ayah meninggal.

Laras membaca surat itu sambil duduk bersandar pada dinding yang hangat oleh lampu. “Sari,” tulis Ayah, “cahaya ini kuputar setiap malam bukan untuk kapal. Kapal punya peta. Cahaya ini untukmu, supaya kalau suatu malam kau tersesat di kota yang terang itu, kau ingat ada satu titik gelap di peta yang selalu menyala untukmu.”

Raka sudah turun sejak tadi. Di atas menara, ditemani dengung lampu dan seratus dua belas anak tangga di bawahnya, Laras menangis tanpa suara — lalu tertawa, karena akhirnya ia mengerti kenapa ia tidak bisa membiarkan menara ini padam begitu saja. Ada surat-surat yang belum selesai. Ada cahaya yang belum selesai ditujukan kepada seseorang.

Ombak besar menghantam karang.

Ilustrasi: gambar yang dibuat untuk Novel Lily

Bab Tiga

Badai dari Barat

380 kata

Badai itu datang dari barat pada malam Kamis, tanpa permisi, seperti tamu yang tahu rumah ini tidak pernah mengunci pintu. Radio cuaca menyebutnya siklon kecil. Pak Darman menyebutnya dengan nama yang lebih jujur: “Ini badai yang tiga puluh tahun lalu menenggelamkan kapal ayahku.” Pukul sembilan malam, hujan sudah tidak jatuh — hujan menyerang.

Genset rumah jaga mati pukul sepuluh lewat empat. Seluruh pulau gelap, kecuali menara. Lampu Seruni punya baterai cadangan untuk enam jam, dan Laras tahu persis apa artinya enam jam dalam badai seperti ini: artinya cukup, kalau tidak ada yang salah. Tetapi malam itu, seperti semua malam penting dalam hidup, selalu ada yang salah.

Radio pesisir berderak pukul sebelas. Suara Pak Darman, putus-putus: “Seruni… Seruni… mesin mati… kami hanyut ke arah Karang Biawak… ada enam orang…” Lalu senyap. Karang Biawak adalah gigi laut paling tajam di selatan pulau, dan satu-satunya penanda arah ke sana, malam itu, adalah lampu yang berputar di atas kepala Laras.

Baterai cadangan melemah lebih cepat dari perhitungan — lampu mulai meredup setiap kali motor pemutar menarik arus. Hanya ada satu cara lama: memutar lensa dengan engkol tangan, bergantian, tanpa henti, sampai kapal itu lewat atau sampai lengan patah. Laras sudah menggulung lengan bajunya ketika pintu ruang lampu terbuka dan Raka muncul, basah kuyup, memeluk koper aluminiumnya.

“Saya dengar dari radio bawah,” katanya terengah. “Koper ini isinya baterai lithium untuk sistem otomatis. Belum terpasang. Kalau kita sambungkan ke motor pemutar—” “Tidak akan cocok tegangannya,” potong Laras. Raka tersenyum di tengah badai. “Makanya saya bawa juga inverter, Mbak. Saya teknisi. Merusak barang kantor untuk keadaan darurat itu keahlian saya.”

Mereka bekerja seperti dua orang yang sudah sepuluh tahun bekerja sama: Laras memutar engkol menjaga irama sorot tetap teratur — kapal di laut membaca irama itu seperti membaca detak jantung — sementara Raka menyambung kabel, mengisolasi sambungan dari hujan yang menyusup, dan berteriak memberitahu setiap kali tegangan naik. Tiga kali lampu hampir padam. Tiga kali pula Laras berbisik pada menara itu, “Sebentar lagi. Tahan sebentar lagi.”

Pukul dua lewat sepuluh dini hari, radio berderak lagi. “Seruni… kami lihat cahaya… kami belok… kami selamat, Seruni. Enam orang selamat.” Laras melepaskan engkol dan duduk di lantai yang dingin. Tangannya gemetar hebat. Di sampingnya Raka tertawa kelelahan sambil berkata, “Laporan saya ke Jakarta nanti akan sangat, sangat sulit ditulis, Mbak.”

Matahari terbit di atas laut.

Ilustrasi: gambar yang dibuat untuk Novel Lily

Bab Empat

Fajar di Atas Karang

373 kata

Badai pergi sebelum fajar, meninggalkan pulau yang kuyup dan berbau tanah basah. Dari puncak menara, Laras melihat laut berubah dari hitam menjadi abu-abu, lalu menjadi perak, lalu — ketika matahari menyentuh garis horizon — menjadi sesuatu yang tidak punya nama warna. Kapal Pak Darman tampak di kejauhan, miring sedikit, bergerak pelan menuju dermaga seperti orang pulang dari perang.

Di dermaga, istri Pak Darman memeluk suaminya sambil menangis dan memaki dalam satu tarikan napas. Enam nelayan turun satu per satu, dan setiap orang dari mereka, sebelum pulang ke rumah masing-masing, berhenti sebentar dan menatap ke atas — ke menara yang lampunya masih menyala redup di terang pagi. Tidak ada yang mengucap terima kasih dengan kata-kata. Di Seruni, menatap menara itu sudah merupakan kalimat yang lengkap.

Raka duduk di anak tangga dermaga dengan koper aluminium yang kini kosong, menatap tabletnya yang retak di sudut. “Sistem otomatis saya seharusnya terpasang lusa,” katanya. “Kalau terpasang, semalam tidak akan ada engkol, tidak akan ada—” Ia berhenti. “Tidak akan ada yang memutar lampu dengan tangan sambil mengajak menara bicara.”

“Kau bisa menulis di laporanmu bahwa sistem lama masih berfungsi,” kata Laras hati-hati. Raka menggeleng pelan. “Saya bisa menulis banyak hal, Mbak. Tapi yang benar cuma satu: semalam, yang menyelamatkan enam orang itu bukan lampu. Lampu cuma alat. Yang menyelamatkan mereka adalah orang yang menolak tidur.” Ia menutup tabletnya. “Beri saya waktu sampai Senin. Saya mau menulis laporan yang benar.”

Siang itu Laras naik lagi ke ruang lampu — bukan untuk bekerja, melainkan untuk membereskan surat-surat Ayah. Ia membaca semuanya, dari surat tahun pertama kepergian Ibu sampai surat terakhir. Lalu ia melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan tiga puluh tahun lalu: ia menyalin alamat Ibu dari amplop paling lama, dan menulis satu surat baru. Surat darinya.

“Ibu,” tulisnya, “cahaya yang Ayah putar untukmu masih menyala. Minggu ini mungkin minggu terakhirnya. Kalau Ibu mau melihatnya sekali saja sebelum padam, perahu terakhir ke Seruni berangkat pukul setengah lima sore. Aku menunggu. Bukan untuk Ayah. Untukku.” Ia melipat surat itu, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, nama Laras yang tertera sebagai pengirim.

Malam harinya, untuk pertama kali sejak tiba di pulau itu, Laras tidur nyenyak — dan menara Seruni berjaga sendirian di atas karang, lampunya berputar teratur, seperti seseorang yang akhirnya bisa bernapas lega.

Sorot mercusuar hangat di atas laut malam.

Ilustrasi: gambar yang dibuat untuk Novel Lily

Bab Lima

Cahaya yang Tetap Menyala

407 kata

Hari Senin, perahu dari kabupaten membawa tiga orang berpakaian rapi dan satu map berisi keputusan. Raka sudah lebih dulu berdiri di dermaga ketika Laras tiba. “Laporan saya sepuluh halaman,” katanya. “Atasan saya membacanya dua kali. Katanya, baru kali ini laporan teknis bikin beliau menangis di halaman enam, bagian engkol itu.”

Keputusannya dibacakan di balai pulau, di depan warga yang datang dengan pakaian terbaik mereka. Mercusuar Seruni tidak lagi tercatat sebagai alat navigasi utama — satelit dan sistem otomatis Raka tetap dipasang di menara pendamping yang lebih rendah. Tetapi menara tua itu tidak dipadamkan. Ia ditetapkan sebagai cagar budaya dan suar warisan: lampunya akan tetap dinyalakan setiap malam, dirawat oleh penjaga, dibiayai dana pelestarian. Dan jabatan penjaganya — jabatan itu ditawarkan, di atas kertas bermeterai, kepada Laras.

“Gajinya lebih kecil dari pekerjaanmu di kota,” kata pejabat itu agak sungkan. Laras menandatangani sebelum kalimat itu selesai. “Pak,” katanya, “saya pernah dibayar besar untuk menggambar peta tempat-tempat yang tidak pernah saya datangi. Sekarang saya dibayar untuk tinggal di rumah.”

Sore harinya, seminggu persis setelah ia tiba, perahu membawa pulang para pejabat — dan membawa pergi Raka, yang harus memasang sistem otomatis di tiga pulau lain. Di dermaga ia berkata, “Sistem-sistem itu akan saya pasang baik-baik, Mbak. Tapi mulai sekarang, di setiap laporan, saya akan menulis satu baris tambahan: di pulau ini, masih ada orangnya. Di pulau ini, lampunya dijaga tangan manusia.”

“Kalau suatu malam kau tersesat di laut, Mas,” kata Laras, “cari cahaya yang berputar agak lambat. Itu Seruni. Itu aku.” Raka tertawa, menaiki perahu, dan melambai sampai perahu itu menjadi titik. Pak Darman, yang berdiri di samping Laras, berkomentar pendek: “Anak itu baik. Teknisi kok bisa-bisanya jatuh cinta pada mercusuar.”

Tiga minggu kemudian, sebuah surat datang dengan perahu sore. Tidak ada nama pengirim, hanya cap pos kota dan tulisan tangan yang sudah dimakan usia: “Laras, Ibu melihat beritanya di koran. Cahayanya tidak jadi padam, ya. Ibu bangga pada Ayahmu. Ibu bangga padamu. Tunggu Ibu pada perahu terakhir, suatu sore nanti. — Ibumu, Sari.”

Malam itu Laras menaiki seratus dua belas anak tangga seperti biasa. Anak tangga ketujuh berderit menyambutnya. Ia menyalakan lampu sesuai tata cara lama — katup, sumbu cadangan, saklar tua — dan cahaya Seruni meledak keluar, berputar melintasi laut yang gelap, menunjuk-nunjuk kegelapan dan berkata kepada siapa pun yang sedang di luar sana: di sini ada karang, hati-hati; di sini ada jalan pulang, jangan takut. Cahaya itu tetap menyala. Dan kali ini, ia tahu persis untuk siapa.

— TAMAT —

Mercusuar di Ujung Seruni

Kamu telah menyelesaikan 5 bab, 1.941 kata — dari senja pertama di Pelabuhan Karangasem sampai cahaya Seruni yang tetap menyala.

Tentang penulis — Lily menulis cerita-cerita pesisir tentang orang-orang yang menjaga hal-hal kecil agar tetap menyala: mercusuar, warung kopi pelabuhan, dan janji yang ditepati diam-diam.

← Kembali ke Beranda